Entah sejak kapan rasa cinta itu hadir dalam hatiku, mungkin sejak bibirmu menyapa bibirku dalam sentuhan lembut atau mungkin saat pelukanmu begitu menghangatkan aku. Aku sunggu lupa kapan rasa ini begitu mengikatku dalam sebuah cinta yang sebenarnya terlarang ini. Yang bisa aku ingat hanyalah saat kau pergi , kau memelukku erat. Saat itulah terakhir kali aku merasakan sentuhan hangat dirimu dalam benakku. Ya.itu yang terakhir kalinya. Waktu berlalu dan kau semakin menjauh hingga aku tidak tahu dimana kau berada, kau meninggalkan aku bagai layang-layang putus yang kalap dan sendirian. Cahaya yang ada di mataku perlahan memudar dan senyum yang dulu kau kagumi itu sudah tidak pernah lagi hadir di wajahku. Sendirian aku berkelana mencari pelabuhan cinta yang lain, mencoba untuk melupakan dirimu. Sayang sekali usahaku hanya berakhir sia-sia, aku tak kunjung menemukan cinta lagi.
Pada suatu malam yang sepi, di kamarku aku merenungkan petualanganku setelah kehilanganmu. Bertanya-tanya dalam hati mengapa aku tak juga menemukan penggantimu. Dan otakku mulai bicara, sudah lama aku tidak mendengarkan kata-katanya dan larut dalam kesedihan karena hatiku yang patah. Dia pun berkata,
‘Hei, baru punya kesempatan untuk menyeimbangkan pikiran?’
‘Iya,jangan tersinggung…Aku hanya butuh waktu sendiri akhir-akhir ini kataku padanya’
‘Wow,butuh waktu sendiri atau berharap orang itu datang lagi? Tidakkah kau tahu jika itu tak mungkin? Haruskah aku mengatai kamu bodoh?Atau apa?’
‘Aku tidak menunggunya,aku cuman butuh ketenangan.Itu saja!’
‘Tapi bukan ketenangan yang kau dapatkan kan?Malah kenangan yang menyakitkan yang terlintas dalam pikiranmu. Kamu pikir aku tidak tahu?Aku adalah kamu dalam versi yang lebih realistis namun selalu kau ingkari. Aku tahu semua yang hadir dalam pikiranmu, termasuk pertanyaan yang sudah lama ingin kau tanyakan tapi selalu kau hindari untuk pikirkan’
‘Maksudmu?’
‘Ah..Jangan pura-pura tidak tahu,aku tahu kamu selalu bertanya-tanya mengapa dalam petualangan panjangmu dengan berbagai macam orang tidak juga kau temukan pengganti dirinya bukan?’
Aku menutup mataku dan ada airmata jatuh secara perlahan di pipiku.
‘Sudahlah,jangan menangis lagi. Sudah cukup banyak airmata dan hari-hari tanpa pengharapan yang kau lewati hanya untuk menangisi kepergiannya. Terimalah kenyataan jika dia tidak mencintaimu lagi atau bahkan memang tidak pernah ada cinta di hatinya untukmu. Lepaskan,maafkan dan lupakan’
‘Tapi aku tidak bisa,aku terlalu mencintainya dan kau pun tahu itu’
‘Ya..ya..aku tahu. Bahkan aku juga tahu mengapa sampai saat ini kau tidak bisa menemukan pengganti dirinya’
‘Mengapa?’
‘Karena kamu tidak pernah mencari pengganti dirinya, kau malah mencari sosok dirinya dalam orang-orang itu. Bagaimana bisa? Setiap orang berbeda, kamu tidak akan pernah bisa menemukan dirinya dalam pribadi yang lain. Hidup ini terlalu singkat, terlalu indah, dan terlalu mengagumkan untuk tetap mencintai orang yang salah! Sekarang saatnya untuk bergerak’
Aku terpana mendengarkan kata-kata dari otakku ini. Dan diam-diam mengakui bahwa apa yang dia katakan itu benar adanya. Perlahan-lahan pula aku mentup mata dan tertidur. Tapi sebelum itu tidak lupa aku berdoa kepada Tuhanku.
‘Tuhan,bantu aku melangkah karena hanya dalam lindunganmu saja aku dapat melewati ini semua. Aku yakin dan percaya di depan sana ada hal-hal yang luar biasa menanti diriku.AMIN’
-Life is too short to Love a wrong person-
Minggu 25 Oktober 2009